Halo, lagiđź‘‹
Sudah lama aku tidak meninggalkan jejak kepalaku. Dengan hening pagi ini dengan riuhnya kepalaku soal pekerjaan yang masih banyak lalai, perutku yang sedang tidak baik, peluk rasa bersalah orang terkasihku hingga outfit apa yang akan ku kenakan hari ini, aku merasa perlu meluruskan kembali apa - apa yang tidak perlu menetap dipikiranku hari ini. Akan ku bahas orang terkasihku saja dulu, yang paling personal dan bisa dikesampingkan.
Begini awal mulanya..
Minggu, 26 Juli 2026 akhirnya kami meluangkan waktu bersama setelah cukup lama sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kami cukup banyak mengobrol dan mengekspresikan kegembiraan karena akhirnya bisa menepi sejenak dari ke-chaos-an dunia ini. Setidaknya 8 jam kami bersama, melakukan berbagai aktifitas dari makan bersama, bercanda tawa, mengobrol soal berbagai peristiwa sosial sampai tanpa sengaja ada momen kecil yang tak sengaja menggores perasaanku. Kejadiannya sangat biasa, dia hanya menunjukkan sebuah video dari layar ponselnya sebanyak dua kali dan aku baru menyadari maksudnya pada kali kedua itu sehingga aku sedikit memberi jarak padanya dan berushaa mengabaikannya. Selang hitungan menit, ternyata mataku memerah dan dia menatap dengan rasa bersalah namun masih dengan kejenakaannya. Dia hanya bercanda katanya, dan sumpah aku tau itu karena ini bukan pertama kalinya dan aku tak pernah tergores oleh hal kecil ini sebelumnya. Aku sampai mengecek aplikasi pencatatan menstruasiku berharap bahwa aku memang sedang di fase sedih dalam siklusku, tapi ternyata tidak. Aku benar-benar tergores oleh hal remeh yang membuatku ikut bertanya 'Kenapa reaksiku seperti ini?'. Tak berhenti disitu, ia terus mengikutiku dan membujuk dengan mengucapkan permohonan maaf berkali-kali dan terus menahanku agar tak beranjak darinya - sepertinya ia tak ingin memperkeruh masalah yang ada dengan membiarkanku sendiri. Ia terus mengusap tubuhku untuk menenangkan dan menghentikan tangisku yang tak seberapa itu. Memang sedihku tak seberapa, hanya saja perasaan itu cukup membuat mulutku diam dan pikiranku terjebak dalam lingkaran yang bahkan tak utuh. Untuk kesekian kalinya sejak aku sampai dikamarku, aku terus kebingungan apa yang sebetulnya aku pikirkan dan aku tangisi? Aku bingung karena perasaannya seperti tidak tervalidasi oleh kepalaku sendiri. Aku masih bisa ikut menertawainya dan menjailinya bahkan saat air mataku mengaburkan pandanganku. Aku menangis dihadapannya dengan tawa dan protes kecil dari tenagaku yang tak seberapa ini. Entah apa yang juga ia pikirkan soal kejadian itu, rasanya cukup janggal dan membingungkan kepalaku sampai pagi ini. Tak peduli seberapa sering aku mengalihkan pikiranku pada pekerjaan, kesan pada kejadian ini terus membuatku terngiang dan ikut larut dalam tanya nya. Sepertinya akan terus ku pikirkan sampai pekerjaanku dapat mengambil alih isi kepalaku.
Komentar
Posting Komentar