PANGGUNG BERNAMA MEDIA

Seperti yang kita semua ketahui, keadaan dibeberapa daerah di Indonesia sedang genting. Banjir dan tanah longsor bergantian terjadi di beberapa pulau di Negeri tercinta ini. Segelintir orang yang mampu memfasilitasi donasi dan bergerak menuju titik bencana, berangkat membawa buah simpati dan peduli rakyat - tentu dengan mengatasnamakan Rakyat tanpa gambar wajah-wajah si pemberi karena ikhlas hati. Sebagian lainnya hanya mampu menyisihkan sebagian dari hartanya untuk ikut andil meringankan setitik beban dipundak para terdampak. Sedangkan segelintir kecil lainnya yang memiliki sumber daya, manpower, serta mobilitas tak terbatas hanya duduk di kursi empuk. Adapun yang berkunjung hanya sibuk mengabadikan dirinya menunjuk-nunjuk dan memanggul beras yang tak seberapa bobotnya sambil enggan menyalami korban. Bahkan nampak terlalu bersih untuk dikatakan datang membantu. Lalu dibawanya-lah tim sigap yang selalu mengawasi, melindungi dan memperlakukannya bak Raja. Tak kalah penting, ada pula yang berperan mengarahkan sikap dalam timnya itu, agar dramatis dan dirinya nampak berguna. Namun yang benar saja, berani-beraninya rancangan pertunjukkan busuk itu kau bawa ke sebuah tragedi! Biar ku ingatkan, bahwa tragedi tersebut terbentuk atas kebijakan sembunyi tanganmu. Dan nampaknya keuntungan yang terus dibicarakan, dikeruk, dihabisi dan diagungkan merupakan pembawa kehancuran. Bagaimanapun, piring yang dipaksa menampung lebih dari dirinya akan kehilangan isi berharganya juga. Dan lucunya, narasi dibangun diatas opini yang bahkan anak SD pun akan tertawa mendengarnya. Sungguh miris sekali sajian Drama di Panggung Media ini. Semua nampak jelas terpampang betapa busuknya pemilik kursi mahal itu.

Komentar

Postingan Populer