Aku ingin Pulang lagi

Setelah sekian lama merasa lebih baik dengan suasana hatiku yang tentram dan keseharianku lebih terasa menyenangkan, ternyata perasaan ingin Pulang itu menguat 3-5 belakangan ini. Aku cukup keras berusaha menahan diri agar tidak melukai diriku lagi dengan menekan perasaan sedih dan lelahku. Aku berusaha untuk tetap berlagak bahagia, sangat berusaha. Bahkan disaat kejadian tidak mengenakkan pun, aku hanya memperbolehkan air mataku keluar 1-2 tetes saja. Aku pikir, dengan semua hal itu aku dapat normal kembali.. tapi aku salah. Puncaknya malam ini, triggernya sederhana, tapi perasaan takut, kecewa dan muak menyeruak begitu saja kedalam diriku. Aku kalah dengan obat-obatan sisa sakitku. Aku kembali merusak tubuhku yang sudah lelah ini dengan butir obat dan sebotol air pendorongnya. Kepalaku terasa berat bukan hanya karena obat, tapi juga karena tangis yang tak henti sejak pagi. Perutku yang perih juga mual, membuatku semakin betah menangis. Dan aku sendirian. Aku kembali merasa akan ditinggalkan, sudah ditinggalkan. Aku kembali merasa dikhianati kata penenang, aku kembali merasa buruk dan dibuang setelah manisku hilang. Aku merasa sangat tidak berguna sebagai manusia. Aku ingin cepat pulang, tapi aku takut tak sampai pada tangan Tuhan. Aku sangat ingin pulang dengan mudah dan pasti. Hanya saja, sialnya gelar almarhumah tidak pernah semudah itu untuk ku gapai. Aku kembali terperosok ke lubang yang sama, namun jauh lebih dalam dan gelap. Sesak, dan sakit rasanya. Bahkan seluruh tubuhku merasakan sakitnya secara nyata, pundakku terasa terhimpit bebatuan keras, dadaku seolah tertekan oleh beban tak kasat mata dan mataku seperti ingin melompat keluar didorong air mata. Seluruh sendi hingga kulit kepalaku seolah saling menyakiti satu sama lain dan semuanya terasa. Nyata. Bahkan sesekali aku mendengar kepalaku meminta sabuk untuk dibelitkan ke leher, atau gantungan besi untuk menopang beban tubuhku dibantu paku yang menempel di dinding kos ku ini. Untungsaja tubuhku yang sakit enggan beranjak, energiku hanya mampu digunakan untuk meneguk air dan obat-obat pahit itu. Entah mengapa aku lebih merasa aman dengan merusak bagian dalam tubuhku, aku lebih suka membuat luka tak nampak. Mungkin karena hanya dengan itu sakit hatiku tidak perlu bertambah karena tak dipedulikan. Atau mungkin karena aku lebih merasa damai dengan hilang perlahan. Meski seluruh bumi menentang isi kepalaku ini, aku selalu merasa pantas dengan pilihan burukku ini. Karena sampai detik ini, aneh sekali rasanya jika aku benar² disayangi manusia lain apalagi sampai ada yang benar² takut aku hilang dan kenapa². Orang yg paling ku percaya pun, masih mengiyakan ketika aku bilang untuk tidak lagi bertemu meskipun sebelumnya ia janji untuk tidak mengiyakan hal itu karena hanya akan memperparah kondisiku. Tapi aku rasa aku tak cukup berhak untuk dipahami oleh siapapun. Mungkin memang semua orang hanya menunggu saat dimana aku meminta mereka tidak menemuiku lagi agar hidup mereka lebih bahagia dan tenang, tidak terbawa oleh kehancuran milikku. Bagaimana bisa ada manusia yang rela hidupnya diganggu kehancuran? Mustahil kan ya. Semakin aku tulis, semakin valid rasanya sekua asumsiku. Mungkin emang saatnya aku melepaskan? Atau perlu ku susun lagi jalanku untuk pulang?

Komentar

Postingan Populer