Cerita Pekerja Baru
Waktu terasa lebih lamban dari jam ke jam namun seolah maraton dari hari ke hari. Jatah waktu 24 jam, dihabiskan setengahnya dengan berperan. Kelelahan mulai menjadi rutinitas harian. Sepatu hitam, make up dan kemeja, menjadi hal yang wajib dikenakan. Tanpanya, aku akan dinyatakan tidak rapih dan ditegur keras. Melayani nasabah, memahami alur birokrasi berbelit dan mengerjakan banyak hal dalam satu waktu seolah menuntutku menguasai Kage bunshin milik Naruto dalam animenya. Dengan energi tak seberapa ini, aku bergelut dengan diriku sendiri. Dengan semua keluh dan butuhku.
Manajemen SDM yang dipaksakan seadanya, dipadukan dengan tuntutan birokrasi panjang namun dengan tempo waktu yang sesingkat-singkatnya, aku kerap disarankan lebih banyak belajar dan mempercepat cara kerjaku. Padahal yang membuat lama ialah menjalankan alur panjang itu yang penuh tunggu.
Jujur saja aku gemas, ingin rasanya ku coba benahi dengan apa yang sudah ada di kepalaku. Namun apa daya, aku hanya anak training yang sewaktu-waktu bisa didepak. Perusahaan memang terbuka dengan masukan, namun apakah dalam penerapannya sesuai dengan kebutuhan? Belum tentu pas. Hari ke hari, jika saja tanpa rekan kerja yang menyenangkan, mungkin suasana kantor jika hanya aku dan atasanku, akan hening, temaram dan suram. Karena aku tak pandai mencerahkan suasana, dan beliau tidak terlihat ceria saat hanya bersamaku. Ah sudahlah, aku hanya pekerja baru yang ingin cerita. Bahkan uang saku pun belum ku terima, namun keluhnya sudah sebanyak ribuan kata.
Komentar
Posting Komentar