Gelar Sarjana
Apa yang membuat sulit mendapatkannya? Apakah dengan itu kita sudah terjamin berkualitas diantara yang lain? Berkualitas seperti apa yang bisa diagungkan sang pemilik gelar sarjana?
Proses pencapaian yang ditelisik sudah bercampur dengan politik kampus dan senioritas yang kerap merasa benar dan lebih dahulu terdidik, membuat si pemikir kecil yang kritis itu seringkali dibungkam dan menjadi cecaran pendahulunya yang tak ingin tersaingi.
Tagline "Kami ingin adik tingkat kami terdidik dan memiliki karakter yang mencerminkan Karakter Mahasiswa" selalu disampaikan dengan lantang. Kekuatan demokrasi yang membutuhkan keterbukaan pikiran dan keberanian berpendapat malah bertolak belakang.
Tak jarang bahwa kemampuan berpikir kritis dicap tajam dan kurang logis. Apakah itu benar adanya? Atau pemahaman si kritis itu yang terblokir untuk masuk kedalam pemikiran si pendahulu yang tak ingin diungguli? Logis, kritis dan analitis adalah keterampilan yang harus dimiliki mahasiswa, katanya. Namun, kenapa sistem kuno masih dianut ditengan modernisasi dan perkembangan kemajuan teknologi seperti saat ini? Apakah dunia perkuliahan akan menganut sistem tradisional kedepannya?
Perpeloncoan berkedok pendidikan karakter ala militer masih marak dilakukan. Dogma bahwa si pendahulu lebih tau tidak diseimbangkan dengan pengetahuan dan pola pemikiran.
Katanya kampus menganut sistem demokrasi, tapi si pemikir kritis beraspirasi malah dikecam ingin menyaingi. Dimana esensi demokrasi jika perkacungan selalu menjadi solusi. Bukankah hal itu layaknya dendam karena sebelumnya diperlakukan serupa? Ayolah, sampai kapan esensi demokrasi disalah arti?
Terkait karakter Mahasiswa, apakah telah mengalami disorientasi? Semenakutkan apa sang terdahulu? Apa mereka ditakuti karena segan? Atau hanya karena sang pemikir kecil enggan saja? Siapa yang sebenarnya dipermainkan oleh politik kampus? Mahasiswa yang saling membodohi atau adanya Dalang yang mengawasi?
Lantas apa tujuan dari proses pengontrolan langkah dan pola pikir mahasiswa ini? Bukannya hal ini hanya mengakibatkan rasa terkurung? Bagaimana jika si pemikir kecil membuat arus derasnya sendiri? Akankah kalian kalabgkabut?
Komentar
Posting Komentar