Wadah Aspirasi Berduri
Negara Demokrasi seharusnya membebaskan rakyatnya beraspirasi, memberikan hak bicara dengan kode etik terjaga, menampung keluhan dan memperbaiki keadaan. Namun nahas, hari ini wadah aspirasi rakyat kian berduri. Dengan dalih bebas berekspresi, diam-diam rantai hukum kian menghimpit kebebasan atas suara rakyat kecil.
Menyayangkan dengan adanya pejabat yang berani meraup untung dari upaya pemerintah memberi bantuan kepada rakyat pun si pemegang kuasa lah yang menang. Banyak rakyat-rakyat kecil dengan kesalahan kecil harus merasakan dinginnya jeruji besi, sedangkan sang penguasa serakah dengan nyaman diberi fasilitas bak hotel di sel nya dengan tampang yang tak memperlihatkan sedikitpun penyesalan.
Setumpul itukah hukum kepada kaum berlimpah harta? Lantas mana hak rakyat kecil yang untuk berpendapat saja dijebloskan atas pasal penghinaan dan pecemaran nama baik. Tidakkah mereka melek pada kasus-kasus korupsi yang mencoreng nama baik pemerintah Negara Indonesia tercinta ini? Mengapa sang elit terus berlindung dengan undang-undang yang dimodifikasi olehnya? Dengan transparansi yang semakin entah kemana, bagaimana semua tokoh terhormat itu mampu menutup mata dan telinga melihat rakyat meronta-ronta.
Menyaksikan aspirasi yang semakin sulit disuarakan, ditambah dengan si pemberani yang semakin menghilang dijebak hukum
Komentar
Posting Komentar