Seutas Harap dari Si Hampir Apatis

Aku diam bukan dalam arti tak geram
Aku diam karena harapku semakin temaram
Aku tetap mengamati semua hal dengan tenang disudut terdalam

Melihat gejolak dinamika yang tak kunjung padam
Menyaksikan kebijakan tak bijak yang terus menerus dibela tanpa setitik paham
Seruan - seruan aksi yang kian menggaung tanda peduli
Hingga masyarakat dianggap lawan oleh wakilnya sendiri

Aku tidak pernah benar - benar diam!
Aku berusaha memahami bagaimana pemangku kebijakan berpikir atas nama rakyat,
Aku terus menerus mencoba menalaah letak salah dari sudut pandang yang tinggi itu
Aku mencoba mencari setitik peduli dari mereka ditengah bangku panas dengan beragam fasilitas mewah itu

Namun yang kulihat hanyalah balok - balok tinggi ego dan kuasa 
Kedudukan tinggi yang kini menunggangi manusia manusia terpilih 
Relasi yang ditali dengan rupiah semakin melonggar ku lihat; seiring dengan terkuaknya kasus-kasus yang melibatkan rupiah
Yang menggentarkan pemimpin hingga kacung - kacung dari tikus berdasi

Aku hanya rakyat yang hak nya semakin terikat
Yang tanah hijaunya dihancurkan atas nama pembangunan
Yang kebebasan menyuarakannya dihadiahi kepala babi
Dan yang suaranya hanya dianggap pada satu hari

Komentar

Postingan Populer