Rintik berdarah



Kedua jarum jam bertemu diangka yang sama malam itu, tepat diangka 12
Aku meringkuk menahan luka, juga menahan segala kecamuk rasa
Namun ku tak ingin lagi hamburkan duka dalam satu masa
Lantas ku biarkan saja kalimatmu perlahan menyayat rongga dada


Meski terlihat nyaris tanpa warna, rintik itu nyatanya berdarah - darah
Ku kira aku cukup hebat menahan pedih yang semakin hinggap di mata
Ternyata tidak, pertahananku hancur dan ku biarkan rintiknya jatuh 
Bersamaan dengan semburat kemerahan yang semakin terlihat seiring dengan derasnya rintik tercucur

Aku tak kuasa menahan luka yang begitu hebat
Menyaksikan tumpahan rasa yang kian membuncah menyemburkan kecewa
Hancur rasanya melihat keputusasaan disambut begitu hangat,
Sedangkan ungkapan kesakitan dibiarkan dan ditinggal begitu saja oleh upaya bertahan
Tak satupun terdengar kalimat penenang
Hanya ada angan kosong yang kian bergema diteriaki penyesalan

Komentar

Postingan Populer