Permainan Rupiah
Perlahan namun agresif aktifitas itu kian menggerogoti
Rupiah rupiah yang tadinya terkubur di pelataran
Kini terkeruk habis menyisakan lubang kosong yang harus ditutupi
Nilai yang tak begitu besar menimbukan kekacauan yang teramat merusak
Rupiah yang tadinya menjadi simbol harapan berbalik menikam dan merusak kehidupan
Rasa gelisah dan amarah selalu membuncah tat kala merasa kalah dipermainkan masalah
Sakit sekali rasanya mengingat tak satupun ada rasa tenang, aman, apalagi nyaman
Bangunan sederhana yang harusnya menjadi perlindungan justru menjadi penyumbang luka paling andal
Aku hanya mampu menangis diam diam, meratapi betapa sulitnya menjadi aku
Bangun dipagi hari selalu menjadi hal yang paling tak diinginkan
Karena teriakan teriakan putus asa itu kian memekik ditelinga
Seolah memaksa jantung berdetak lebih kencang demi merespon beban pikiran yang kian membelenggu
Aku tak pernah merasakan bahwa menjadi miskin sesulit ini
Seharusnya aku terbiasa, namun nyatanya kini amat memburuk
Jangankan makan, kebutuhan dasar seperti sabun dan pasta gigipun tidak mampu terpenuhi
Sialnya di kala aku pusing skripsi, aku harus mengalah karena laptop ku dipakai judi
Bukannya aku tak mampu menganggu, hanya saja membayangkan kalimat satir yang diteriakkannya saja sudah membuatku mual!
Aku tak lagi mampu memaksakan diri untuk menerima kondisi. Jujur, aku tak lagi mampu melakukan aktifitas apapun selama manusia itu dan judinya masih membelenggu rumah ini
Adakah yang bisa dilakukan penguasa untuk ini?
Adakah yang bisa dilakukan untuk menghentikan semua ketersiksaan ini?
Tolong! Sudah ingin pergi rasanya daripada menyaksikan keterpurukan ini
Melihat Ayah yang semakin ringkih menyaksikan hidup anaknya yang demikian semrawut hanya mampu menutup mata dan telinga
Bukan tak peduli, namun ucapnya tak pernah lagi didengar, bantuan bantuan kecilnya tak lagi pernah dihargai
Lalu sekarang bagaimana dengan hidupku?
Apakah aku harus mengalah lagi demi ketenangan yang nyatanya tak ada?
Atau aku harus menyerah dalam mimpi yang telah begitu lama coba ku genggam?
Atau mungkin, harus ku matikan juga hatiku agar mampu?
Komentar
Posting Komentar