Mimpi
Proses pewujudan mimpi yang lagi-lagi terhimpit ekonomi.
Impiannya kah yang salah? Atau kondisi yang sering kali tak mudah?
Sudah tak lagi menjadi hal baru ketika seorang pejuang mimpi terpaksa balik arah hanya karena rupiah. Kemauan dan kemampuan yang digunjingkan menjadi faktor utama kesuksesan bisa tersingkir karena finansial yang belum mapan. Bagaimana generasi emas terbentuk baik jika fasilitas pengembangnyapun masih sulit dijangkau? Memang banyak pertimbangan yang menjadi persoalan umum terkait proses mencapai mimpi, bidang yang digeluti, akses jalur eksklusif, fasilitas hingga kapasitas finansial sudah biasa menjadi perbincangan terkait hal ini. Lalu, bisakah kita ciptakan solusi?
Memang benar adanya, bahwasanya pemerintah telah menyiapkan berbagai program untuk menunjang rakyatnya bisa mewujudkan impian demi terlahirnya masyarakat unggul. Namun, apakah itu menutupi segala celah dari kekurangan juga keresahan masyarakat terkait pembiayaan? Masih banyak pertanyaan - pertanyaan terkait problematika potensi emas yang masih terkubur kesiapan rupiah yang kabur dan membayang. Penunjang bukanlah hal pokok, peluang pun bisa menjadi salah satunya. Ketika kita berpotensi, namun peluangnya sangat kecil, bagaimana masyarakat berpotensi besar namun ekonomi kecil mampu bersaing? Jika persoalan rupiah dalam proses mencari nafkah nya pun masih dipertimbangkan. Jalur eksklusif mencari pekerjaan pun seperti diterima dengan baik keabsahaannya karen adanya kedekatan. Embel - embel peluang berpotensi menjadi jalur alternatif pengalihan isu dari transaksi pemberian rupiah berkedok hadiah dan dana hibah. Ironis sekali bahwa PUNGLI yang digaungkan sebagai perbuatan ilegal menjadi salah satu jalur terjaminnya nama tercantum di daftaran pekerja tetap.
Dengan semakin banyaknya faktor penghambat perwujudan mimpi, apakah bibit unggul dapat terlihat? Bagai permata yang tersembunyi di bebatuan berpasir, sulit membedakan tanpa melihat isi sesungguhnya dari kemaasan batu coklat.
Komentar
Posting Komentar