Keluh
Uluran tangan yang dahulu selalu menjulur menarik siapa saja yang meraihnya kini terpatahkan dan tak berdaya. Berbagai aksi yang telah dilakoni untuk melindungi (setidaknya itu yang diniatkan) berbalik mendatangkan ancaman dan kecaman dari mulut - mulut berbisa dengan topeng malaikat terpasang diwajahnya. Sayangnya rangkulan dan genggaman tangan yang mengajak ke jalan kebaikan itu (katanya) akhirnya menghapus jejaknya sendiri ketika dihadapkan dengan kesulitan. Menyisakan jiwa yang terkapar tak tahu menahu tentang salah yang katanya mereka perbuat. Padahal begitu banyak harap yang selalu mereka langitkan hanya untuk keamanan dan kenyamanan orang yang tak mereka kenal, begitu banyak agenda yang mereka tinggalkan demi ia yang katanya terluka dan butuh bantuan. Sungguh, demi tuhan celakalah orang yang menusukkan belati pada jiwa yang malang itu.
Dan kini hanya keputusasaan yang membayanginya, menariknya semakin jauh kedalam lembah ketersiksaan. Rasa penyesalan akan bantuan yang pernah ia tawarkan selalu menghantui mimpi besarnya. Ia merasa tak lagi pantas. Ia merasa tak lagi mampu; apalagi menghadapi mulut berbisa yang kerap mengancam tanpa memberi kesempatan untuk ia menjelaskan. Ia tak lagi merasa berdaya. Perlahan ia hilang tanpa seorangpun menyadarinya. Hingga pada akhirnya ia merasakan tenang dan damai disisi Tuhan-Nya.
Komentar
Posting Komentar